Keluaran 21:1-22:31; Markus 2:8-3:30; Amsal 5:1-14
RENUNGAN
“Kebenaran Mutlak”
Apabila seseorang mencuri seekor lembu atau seekor domba dan membantainya atau menjualnya, maka ia harus membayar gantinya, yakni lima ekor lembu ganti lembu itu dan empat ekor domba ganti domba itu. Keluaran 22:1
Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan. Hari ini kita membaca satu ayat yang mungkin jarang dikhotbahkan. Sekilas ini seperti pasal hukum biasa. Seperti undang-undang pidana. Tetapi firman Tuhan tidak pernah sekadar hukum. Di balik hukum ini ada satu karakter Allah yang dinyatakan: Allah adalah Allah yang benar. Dan hari ini kita belajar tentang kebenaran yang mutlak artinya kebenaran yang harus dilakukan oleh umat Tuhan, kebenaran yang tidak bisa ditawar.
Mengapa kebenaran itu mutlak? 1. Menyatakan bahwa Dosa Itu Serius Bapak, ibu, saudara mengapa pencurian dihukum begitu berat? Mengapa harus mengganti beberapa kali lipat? Karena di mata Tuhan, dosa itu serius.
Dunia hari ini berkata: “Cuma sedikit.” “Semua orang juga begitu.” “Yang penting tidak ketahuan.” Tetapi kebenaran Tuhan berkata: Salah tetap salah.
Pencurian bukan hanya soal barang. Pencurian adalah soal hati. Pencurian adalah soal integritas. Pencurian adalah pelanggaran terhadap kebenaran Allah.
Tuhan sedang membentuk umat-Nya supaya hidup berbeda dari bangsa lain; supaya umat-Nya hidup dalam standar kebenaran Allah.
Bapak, ibu, saudara kalau hari ini hati kita mulai menoleransi dosa kecil, berhati-hatilah. Karena dosa kecil yang dibiarkan akan menjadi kebiasaan besar. Kebenaran membuat kita peka terhadap hal-hal salah yang kita lakukan. Tanpa kebenaran, hati menjadi kebal.
Mengapa kebenaran itu mutlak? 2. Menuntut Tanggung Jawab Perhatikan, Tuhan tidak hanya berkata, “Jangan mencuri.” Tetapi jika mencuri, harus mengganti lebih banyak dari yang diambil.
Artinya apa? Kebenaran selalu menuntut pertanggungjawaban. Kebenaran bukan hanya pengakuan di mulut, tetapi keberanian memperbaiki kesalahan.
Itulah sebabnya ketika Zakheus bertobat, ia berkata: “Kalau ada orang yang pernah aku peras, aku akan kembalikan empat kali lipat.” Mengapa empat kali lipat? Karena Zakheus mengerti prinsip kebenaran.
Bapak, ibu, saudara kita sering mau diampuni, tetapi tidak selalu mau bertanggung jawab. Kita berkata, “Tuhan ampuni saya,” tetapi tidak mau memperbaiki apa yang sudah kita rusak.
Kebenaran berkata: Jika kita melukai, kita harus minta maaf. Jika kita merugikan, kita harus mengembalikan. Jika kita salah, kita harus mengakui. Itu sebabnya kebenaran itu mutlak, tidak bisa ditawar.
Mengapa kebenaran itu mutlak? 3. Menjaga Integritas Kalau kebenaran tidak mutlak, bisa ditawar, bisa diajak kompromi, maka kita akan menjadi orang yang tidak berintegritas. Sikap kita, pendirian kita bisa berubah-ubah karena bisa ditawar, bisa diajak kompromi dengan hal yang tidak benar.
Pencurian merusak kepercayaan. Dan tanpa kepercayaan, tidak ada relasi yang sehat. Dalam keluarga, kalau tidak ada kebenaran, rumah tangga rapuh. Dalam pelayanan, kalau tidak ada kebenaran, gereja kehilangan kuasa. Dalam pekerjaan, kalau tidak ada kebenaran, kepercayaan dan reputasi hancur.
Bapak, ibu, saudara, integritas tidak dibangun di atas kemampuan, tetapi di atas kebenaran. Orang bisa pintar, orang bisa berbakat, tetapi tanpa kebenaran, semua itu akan runtuh. Tanpa kebenaran, hidup rohani kita goyah.
Bapak, ibu, saudara, sebagai umat-umat Tuhan kita harus mengaplikasikan firman ini dengan cara: Jujur dalam perkara kecil ; Berani mengakui kesalahan ; Tidak mencari pembenaran diri ; Mengembalikan jika pernah merugikan orang lain.
Karena kebenaran bukan hanya doktrin. Kebenaran adalah gaya hidup. Mungkin hari ini Roh Kudus sedang menegur kita: Ada hal kecil yang tidak jujur. Ada tanggung jawab yang belum dibereskan. Ada relasi yang perlu dipulihkan. Jangan tunda. Karena orang yang hidup dalam kebenaran akan berdiri teguh. Tetapi orang yang bermain-main dengan kebenaran akan goyah.
Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan, Keluaran 22:1 mengingatkan kita bahwa Allah adalah Allah yang benar. Kebenaran itu mutlak: - Menyatakan dosa itu serius. - Menuntut tanggung jawab. - Menjaga integritas.
Hari ini mari kita memilih untuk hidup dalam kebenaran. Bukan hanya tahu kebenaran. Bukan hanya mengajarkan kebenaran. Tetapi diikat oleh kebenaran. Karena ketika hidup kita diikat oleh kebenaran Kristus, kita akan berdiri teguh dalam segala musim kehidupan. Tuhan menolong kita semua.