Bilangan 15:1-16:35; Lukas 4:38-5:16; Mazmur 37:1-9
RENUNGAN
“Keadilan Tanpa Kompromi”
Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tegah-tengah Jemaah itu. Bilangan 16:31-33
Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan, seringkali kita lebih suka berbicara tentang kasih Tuhan daripada keadilan Tuhan. Kita ingin Tuhan yang mengampuni, tetapi kita lupa bahwa Tuhan juga Hakim yang adil.
Dalam Bilangan pasal 15 dan 16, kalau kita membaca, kita melihat ada dua gambaran yang sangat jelas: - Dosa yang dilakukan dengan sengaja. (Bilangan 15:30-31) - Pemberontakan terhadap otoritas yang Tuhan tetapkan. (Bilangan 16:1-2) Dan keduanya berujung pada satu hal: keadilan Allah dinyatakan tanpa kompromi.
1. Allah melihat hati dan niat Bilangan 15:30-31 Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya.
Firman Tuhan membedakan antara dosa karena ketidaktahuan (tidak sengaja) dan dosa yang dilakukan dengan sengaja. Dosa yang disengaja bukan sekadar kesalahan, tetapi pemberontakan hati terhadap Tuhan.
Bapak, ibu, saudara, Tuhan tidak hanya melihat perbuatan kita, tetapi juga motivasi kita. Sikap meremehkan Tuhan adalah bentuk ketidakadilan terhadap kekudusan-Nya.
Apakah kita masih sengaja hidup dalam dosa karena merasa “Tuhan pasti mengampuni”? Apakah kita mulai menyepelekan firman Tuhan?
Allah itu adil, berarti dosa tidak bisa dianggap ringan, apalagi jika dilakukan dengan kesadaran penuh (disengaja).
2. Allah menindak pemberontakan. Bilangan 16:31-33 Korah beserta semua orang yang mengikutinya ditelan bumi hidup-hidup, beserta harta dan seisi rumahnya.
Korah dan para pengikutnya, mereka bukan orang-orang sembarangan. Mereka adalah para pemimpin. Bilangan 16:1-2 Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan.
Tetapi mereka menolak otoritas Musa, hal itu sama dengan mereka melawan Tuhan. Karena Tuhan yang sudah menetapkan Musa menjadi pemimpin mereka, pemimpin bangsa Israel. Akibatnya bumi terbuka dan menelan mereka hidup-hidup.
Peristiwa ini bukan hanya sekadar hukuman, tetapi sebuah pernyataan tegas bahwa Tuhan tidak mentoleransi pemberontakan.
Memberontak terhadap pemimpin yang ditetapkan Tuhan sama dengan memberontak kepada Tuhan. Tuhan yang adil tidak akan membiarkan kejahatan terus berlangsung.
Bagaimana dengan kita, bapak, ibu, saudara, apakah kita memiliki hati yang tunduk atau suka memberontak? Apakah kita menghormati otoritas yang Tuhan ijinkan dalam hidup kita?
3. Keadilan Allah menjadi peringatan dan kasih. Secara sekilas hukuman terhadap Korah dan para pengikutnya terlihat sangat keras, mereka ditelan bumi hidup-hidup. Namun disitu juga kasih Tuhan dinyatakan: - Tuhan menjaga umat-Nya dari kehancuran yang lebih besar. - Tuhan memberi peringatan agar umat Tuhan tidak memberontak seperti Korah dan binasa.