Bilangan 22:21-23:26; Lukas 6:37-7:10; Mazmur 37:32-40
RENUNGAN
MENGKRITIK TANPA BERKACA
Lukas 6: 41-42
Lukas 6:41-42 (TB) Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
LATAR BELAKANG
Ayat ini muncul ketika Tuhan Yesus sedang mengajar banyak orang dan murid-murid-Nya di dataran Galilea tentang kehidupan rohani yang benar.
Sebelum menyampaikan ayat ini, Yesus sedang berbicara tentang mengasihi musuh, berbuat baik kepada orang yang membenci kita, dan tidak mudah menghakimi orang lain.
Pada zaman itu, kehidupan rohani bangsa Israel sangat dipengaruhi oleh para pemimpin agama seperti orang Farisi dan ahli Taurat.
Mereka sangat menekankan ketaatan pada hukum Taurat Musa, tetapi sering kali hanya sebatas diluarnya saja.
Secara penampilan mereka memang terlihat saleh, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan.
Akibatnya, terbentuklah budaya rohani yang salah yaitu orang terbiasa untuk menilai orang lain, cepat melihat kesalahan orang, dan merasa diri sendiri yang paling benar, tetapi untuk mengkoreksi diri sendiri sangatlah sulit.
Disini Tuhan Yesus tidak melarang untuk kita menegur dan memperbaiki kesalahan orang lain, tetapi Tuhan menekankan urutan yang benar, yaitu kita harus membenahi diri sendiri baru menegur dan memperbaiki orang lain.
Pengajaran ini sangat penting untuk membentuk karakter murid-murid, supaya mereka tidak menjadi orang yang terlihat rohani di luar tetapi di dalam hatinya ternyata kosong.
INTERPRETASI
1. Melihat Kesalahan Orang Lebih Mudah
Tuhan Yesus berkata,
"Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
Firman ini sangat relevan, bukan hanya pada zaman itu, tetapi sampai hari ini. Sifat manusia tidak berubah. Kita cenderung lebih mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sering kali buta terhadap kesalahan diri sendiri.
Tuhan Yesus memakai gambaran yang sangat kuat: selumbar dan balok.
Selumbar itu kecil, tipis, bahkan kadang hampir tidak terlihat.
Sedangkan balok itu besar, berat, dan sangat jelas kelihatan.
Artinya apa?
Sering kali kita:
• melihat kesalahan kecil orang lain seperti sesuatu yang besar • tetapi kesalahan besar dalam diri kita sendiri justru kita anggap kecil, bahkan kita abaikan Ini bukan sekadar soal cara melihat, tetapi soal kondisi hati. Mengapa ini bisa terjadi?
Karena dalam hati manusia ada kecenderungan:
merasa diri lebih benar, dan tanpa kita sadar, kita sedang meninggikan diri di atas orang lain.
Kita bisa sangat teliti menilai orang lain:
“Kamu kurang ini…” “Kamu seharusnya tidak seperti itu…” “Itu salah, itu dosa…”
Tetapi kita tidak pernah bertanya pada diri sendiri:
“Apakah hatiku sudah benar di hadapan Tuhan?” “Apakah aku juga pernah melakukan hal yang sama?” “Apakah aku menegur karena kasih, atau karena merasa lebih benar?”
Inilah yang Tuhan Yesus tegur. Bukan berarti kita tidak boleh menegur atau memperbaiki orang lain. Tetapi yang Tuhan lihat adalah hati manusia ketika menegur.
2. Memperbaiki Diri Sebelum Menolong Orang Lain
Tuhan Yesus melanjutkan perkataanya: keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." Di sini kita melihat sesuatu yang sangat penting. Tuhan Yesus tidak melarang kita menolong orang lain, tetapi Ia menekankan urutan yang benar yaitu bereskan hati terlebih dahulu baru menolong orang lain.
Mengapa ini penting?
Karena kalau kita belum membereskan hati: • cara kita menolong bisa salah • kata-kata kita bisa melukai • dan hati kita bisa dipenuhi kesombongan tanpa kita sadari Tuhan Yesus bahkan berkata, “hai orang munafik…”
Artinya, seseorang bisa kelihatan rohani diluar, suka menegur, suka mengoreksi, suka memberi nasihat, tetapi sebenarnya hidupnya belum dibereskan di hadapan Tuhan.
Inil bisa jadi berbahaya. • Kita bisa pintar menasihati orang lain, tetapi kita tidak melakukannya. • kita bisa cepat menegur orang lain, tetapi kita tidak mau berubah. • kita sibuk memperbaiki orang lain, tetapi kita lupa memperbaiki diri sendiri Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata "keluarkan dahulu balok dari matamu"
artinya hati kita harus terlebih dahulu di ubahkan.
Dan ketika hati kita sudah di ubahkan
• kita menjadi rendah hati, • tidak mudah menghakimi atau mengkritik orang lain • dan mulai mengerti pergumulan orang lain. dan dari sini kita bisa menolong orang lain, memberi teguran dengan kasih bukan dengan penghakiman atau kritikan.
APLIKASI
1. Kurangi Mengkritik, Perbanyak Koreksi Diri Dalam keseharian kita, tanpa kita sadari, kita lebih mudah mengkomentari orang lain, di rumah, di tempat kerja, di gereja, bahkan di dalam hati kitapun, kita cenderung mengkomentari orang lain.
Mulai hari ini, belajar untuk merubah diri. Setiap kali kita ingin mengkritik, ubah menjadi koreksi diri “Apakah aku juga pernah melakukan hal yang sama?” “Apakah hidupku sudah benar di hadapan Tuhan?” dan minta Tuhan untuk merubah hati kita.
2. Jadilah Berkat, Bukan Hakim
Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi hakim atas hidup orang lain, tetapi untuk menjadi berkat. Artinya, ketika kita melihat orang lain jatuh dalam kesalahan:
• jangan langsung menghakimi • jangan langsung menyalahkan tetapi setelah kita membenahi diri kita bisa belajar punya hati untuk menolong
Kita bisa mulai untuk mendoakan, mendekatinya dan berbicara dengan kasih dalam Ef. 4:29 (AMD) Kalau kamu berbicara, jangan sampai mulutmu mengucapkan kata-kata kotor. Tetapi, ucapkan kata-kata yang bermanfaat untuk membangun orang lain sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan begitu, ucapanmu akan memberkati mereka yang mendengarkanmu.
mari kita punya perkataan yang membangun, jangan menjatuhkan, agar orang lain yang mendengarnya di berkati