Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang sekeliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Lukas 6:9-10
Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini kita kembali belajar tentang keadilan. Seringkali manusia memahami keadilan sebagai sesuatu yang kaku: aturan harus ditegakkan, hukum harus dijalankan, orang yang melanggar harus dihukum. Namun dalam Lukas pasal 6 ini, Yesus menghadirkan pandangan yang berbeda. Keadilan menurut Allah bukan hanya soal aturan, tetapi soal hati.
Orang-orang Farisi sangat menjunjung tinggi hukum Sabat. Namun mereka kehilangan hal yang sangat penting dari hukum itu sendiri. Mereka melihat aturan, tetapi tidak melihat kemanusiaan. Mereka melihat pelanggaran, tetapi tidak melihat penderitaan.
Dalam Lukas 6:6-11, kita melihat sebuah peristiwa yang sangat menarik. Ada seorang yang mati sebelah tangannya (tangan kanan). Orang tersebut tentu hidup dalam keterbatasan, mungkin sudah lama menanggung rasa malu, rasa sakit, rasa tidak berdaya.
Pada saat itu Yesus sedang mengajar di rumah ibadat. Yesus melihat orang sakit tersebut dan menyembuhkannya. Orang-orang Farisi marah karena Yesus menyembuhkan pada hari Sabat. Lukas 6:11 Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. Bagi mereka, yang Yesus lakukan adalah sebuah pelanggaran hukum. Yesus telah melanggar hukum Sabat. Menyembuhkan orang pada hari Sabat.
Padahal kalau kita memperhatikan, tidak ada kejahatan yang dilakukan oleh Yesus. Justru ada orang yang ditolong, disembuhkan, dipulihkan.
Yang menjadi masalah: - Orang-orang Farisi lebih peduli kepada aturan daripada kemanusiaan. - Mereka lebih peduli pada “benar secara hukum” daripada “benar di hadapan Allah.”
Bapak, ibu, saudara keadilan tanpa kasih adalah kekejaman. Itu bukanlah keadilan Tuhan. Allah kita adalah Allah yang adil namun juga Allah yang penuh kasih. Keadilan Allah itu memulihkan.
1. Keadilan Tuhan selalu berpihak pada kehidupan Lukas 6:9 Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Pertanyaan ini sederhana, namun sangat dalam. Yesus mau mengembalikan makna keadilan: - Keadilan Tuhan selalu memilih menyelamatkan, bukan membinasakan. - Keadilan Tuhan selalu memilih memulihkan, bukan menghancurkan. - Keadilan Tuhan selalu memilih menghidupkan, bukan mematikan. Di mata Tuhan, membiarkan orang lain menderita padahal kita bisa menolongnya, itu sebuah ketidakadilan yang kita lakukan.
2. Keadilan Tuhan membawa pemulihan Lukas 6:10 Sesudah itu Ia memandang sekeliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Yesus tidak hanya berbicara, tetapi Dia bertindak. Yesus berkata: “Ulurkanlah tanganmu!” dan tangan itu dipulihkan.
Keadilan Tuhan itu memulihkan: menyembuhkan yang terluka, memperbaiki yang rusak, dan mengangkat yang tertindas. Berbeda dengan keadilan dunia yang seringkali hanya menghukum tanpa memberi jalan pemulihan.