1 Raja 1:1-2:12; Kisah 10:23-48; 11:1-8; Mazmur 74:10-17
RENUNGAN
? 2 S A M U E L K E T O P O N G 5 : 1 9 - 2 5 K E S L A M A T A N Latar Belakang Saat itu Daud baru saja diangkat menjadi raja atas seluruh Israel. Seharusnya itu menjadi masa kemenangan. Tetapi justru setelah diangkat menjadi raja, orang Filistin datang menyerang ini bukan peperangan pertama Daud. Daud sudah berpengalaman: melawan singa dan beruang, mengalahkan Goliat, memenangkan banyak peperangan. Secara manusia, Daud punya alasan untuk langsung bertindak. Ia punya pengalaman, kemampuan, strategi. Tetapi Daud tidak langsung maju. Daud berhenti dan bertanya kepada Tuhan: “Apakah aku harus maju?” Di sinilah kita belajar tentang ketopong keselamatan. Ketopong melindungi kepala — berbicara tentang pikiran. Karena hari-hari ini banyak orang yang memiliki pertanyaan dalam hidupnya dan tidak mendapatkan jawaban. Dan pada akhirnya mengakibatkan: keputusan yang salah, emosi yang tidak dikendalikan, pikiran yang terlalu menganggap enteng, langkah tanpa tuntunan Tuhan. Hari ini banyak orang lebih cepat bertindak daripada bertanya kepada Tuhan. Padahal sebelum melangkah, seharusnya bertenya terlebih dahulu kepada Tuhan Namun, kenyataannya banyak dari kita didapati sering melakukan tindakan tanpa bertanya kepada Tuhan, kemudian Ketika hasilnya buruk, baru berkata: “Tuhan, kenapa?” Padahal Daud memberi teladan berbeda. Sebelum melangkah, ia bertanya. Dan kemudian daud endapatkan "jawaban" nya 2 hal yang dapat kita belajar disini: 1. “Tuhan, Haruskah Aku Melangkah?” (2 Samuel 5:19a) “Lalu bertanyalah Daud kepada TUHAN… ” Daud tidak asal bergerak. Padahal ia sudah pernah menang. Ia berpengalaman. Tetapi Daud sadar: Pengalaman tidak boleh menggantikan tuntunan Tuhan. Kadang keberhasilan masa lalu membuat seseorang terlalu yakin diri. Merasa: “Saya sudah tahu caranya. ” Padahal apa saja yang akan terjadi didepan sana, semua masih serba rahasia. Sehingga seharusnya kita bertanya kepada yang sudah mengetahui sampai di garis akhirnya, yaitu TUHAN. Banyak orang jatuh bukan karena tidak mampu. Tetapi karena terlalu yakin diri. Merasa: tidak perlu bertanya, tidak perlu doa, sudah tahu jawabannya. Padahal setiap keputusan dalam hidup kita, Tuhan yang tahu jawabannya Ayat pendukung Amsal 3:5-6 (TSI3.4) Percayalah kepada TUHAN dengan sepenuh hatimu dan jangan mengandalkan pemikiranmu sendiri. Mintalah kehendak-Nya dalam setiap langkah hidupmu, maka Dia akan menuntunmu ke jalan yang benar. Contoh sekarang: Kadang orang: pilih pasangan tanpa doa, pindah pekerjaan karena emosi, ambil keputusan tanpa libatkan TUhan, Dan kemudian menyesal. Masalahnya bukan Tuhan tidak peduli. Tetapi kita terlalu cepat mengambil keputusan sendiri. sebab akibat: Sebab: hidup terlalu mengandalkan diri sendiri. Akibat: mudah salah langkah. Tetapi, sebaliknya: Sebab: melibatkan Tuhan sebelum melangkah. Akibat: keputusan lebih bijaksana. Aplikasi Sebelum: mengambil keputusan, berbicara, memilih, dan melangkah biasakan bertanya: “Tuhan, apakah ini kehendak-Mu?” 2. “Tuhan, Bagaimana Aku Melangkah?” 2 Samuel 5:22-25 (TB) Ketika orang Filistin maju sekali lagi dan memencar di lembah Refaim, maka bertanyalah Daud kepada TUHAN, dan Ia menjawab: "Janganlah maju, tetapi buatlah gerakan lingkaran sampai ke belakang mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan pohon-pohon kertau. Dan bila engkau mendengar bunyi derap langkah di puncak pohon-pohon kertau itu, maka haruslah engkau bertindak cepat, sebab pada waktu itu TUHAN telah keluar berperang di depanmu untuk memukul kalah tentara orang Filistin. " Dan Daud berbuat demikian, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, maka ia memukul kalah orang Filistin, mulai dari Geba sampai dekat Gezer. Menariknya, saat Filistin datang lagi, Tuhan memberi strategi berbeda kepada Daud. Tuhan berkata: Jangan maju seperti sebelumnya. Artinya: Cara lama belum tentu cocok untuk musim yang baru. Daud menang karena mau mengikuti arahan Tuhan. Kadang kita terlalu terpaku pada pengalaman. Tetapi Tuhan bisa punya cara berbeda. “Dulu berhasil kok. ” Tuhan bukan hanya ingin kita bertanya: “Boleh atau tidak?” Tetapi: “Bagaimana caranya?” Karena arah Tuhan penting saat kita melangkah. Tuhan tidak hanya peduli tujuan kita. Tuhan juga peduli cara kita sampai ke sana. RYesaya 30:21 (BIMK) ayat pendukung Bila kamu menyimpang dari jalan, di belakangmu akan terdengar suara- Nya yang berkata, "Inilah jalannya; ikutlah jalan ini. " Contoh alkitab: 2 Raja-raja----Naaman ingin sembuh dengan caranya sendiri. Tetapi mujizat terjadi ketika ia mengikuti cara Tuhan. Sebab – Akibat Sebab: memaksakan cara sendiri. Akibat: kelelahan dan salah arah. sebaliknya Sebab: mengikuti tuntunan Tuhan. Akibat: damai sejahtera dan kemenangan. aplikasi 1. Libatkan Tuhan: dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, studi, keputusan besar dan kecil. 2. Biasakan bertanya: “Tuhan, bagaimana aku melangkah?” Penutup Daud menang bukan karena pengalaman. Bukan karena kekuatan. Tetapi karena ia berhenti terlebih dahulu kemudian bertanya kepada TUHAN Ingat dua hal ini: 1. “Tuhan, Haruskah Aku Melangkah?” 2. “Tuhan, Bagaimana Aku Melangkah?” Karena: Ketopong keselamatan menjaga pikiran kita supaya tidak gegabah, tetapi hidup dalam tuntunan Tuhan.