AKAR BARU • . Yerusalem terkepung. Kota-kota berbenteng di Yehuda sudah jatuh satu per satu ke tangan Sanherib, raja Asyur — Lalu utusannya, Rabsake, berdiri di dekat saluran kolam atas, tepat di jalan yang bisa didengar semua orang di atas tembok kota, dan mulai berbicara. 13Kemudian berdirilah juru minuman agung dan berserulah ia dengan suara nyaring dalam bahasa Yehuda. Ia berkata: ”Dengarlah perkataan raja agung, raja Asyur! 14Beginilah kata raja: Janganlah Hizkia memperdayakan kamu, sebab ia tidak sanggup melepaskan kamu! 15Janganlah Hizkia mengajak kamu berharap kepada Tuhan dengan mengatakan: Tentulah Tuhan akan melepaskan kita; kota ini tidak akan diserahkan ke dalam tangan raja Asyur. 16Janganlah dengarkan Hizkia, sebab beginilah kata raja Asyur: Adakanlah perjanjian penyerahan dengan aku dan datanglah ke luar kepadaku, maka setiap orang dari padamu akan makan dari pohon anggurnya dan dari pohon aranya serta minum dari sumurnya, 17sampai aku datang dan membawa kamu ke suatu negeri seperti negerimu, suatu negeri yang bergandum dan berair anggur, suatu negeri yang beroti dan berkebun anggur.
• pertanyaan pertamanya bukan ancaman fisik. Pertanyaannya adalah pertanyaan iman: 4Lalu berkatalah juru minuman agung kepada mereka: ”Baiklah katakan kepada Hizkia: Beginilah kata raja agung, raja Asyur: Kepercayaan macam apakah yang kaupegang ini? 5Kaukira bahwa hanya ucapan bibir saja dapat merupakan rencana dan kekuatan untuk perang! Sekarang, kepada siapa engkau berharap, maka engkau memberontak terhadap aku?
6Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya. 7Dan apabila engkau berkata kepadaku: Kami berharap kepada Tuhan, Allah kami, – bukankah Dia itu yang bukit-bukit pengorbanan-Nya dan mezbah-mezbah-Nya telah dijauhkan oleh Hizkia sambil berkata kepada Yehuda dan Yerusalem: Di depan mezbah inilah kamu harus sujud menyembah! • Usaha memutarbalikkan langkah iman Hizkia yang benar menjadi seolah-olah bukti bahwa Hizkia sudah membuat Allahnya sendiri marah. Apa artinya bagi hidup kita hari ini? • Kita mungkin hampir setiap dari kita punya "suara Rabsake" sendiri — sesuatu yang berdiri cukup dekat untuk didengar semua orang di sekitar kita, dan bertanya dengan nada meyakinkan: sebenarnya kamu bersandar pada apa? Bisa - berupa angka di rekening yang menyusut - diagnosis yang belum jelas ujungnya, - opini orang lain yang lebih nyaring dari doa kita sendiri, atau — seperti Rabsake — sesuatu yang memelintir langkah iman kita sendiri jadi bukti bahwa kita salah - • Yang menarik, Hizkia tidak menjawab Rabsake sepatah kata pun di depan umum. (36:21). Tetapi orang berdiam diri dan tidak menjawab dia sepatah kata pun, sebab ada perintah raja, bunyinya: ”Jangan kamu menjawab dia!” • tindakan Hizkia (37:1). Segera sesudah raja Hizkia mendengar itu, dikoyakkannyalah pakaiannya dan diselubunginyalah badannya dengan kain kabung, lalu masuklah ia ke rumah Tuhan. • Ia mengirim orang kepada Nabi Yesaya dengan pengakuan yang jujur, bukan rohani-basa-basi: "Hari ini hari kesesakan... sebab anak-anak sudah tiba waktunya untuk lahir, tetapi tidak ada kekuatan untuk melahirkannya" (37:3) — • Hizkia tidak menutupi keputusasaannya di hadapan Tuhan. Ia membawanya apa adanya. Lalu datang lagi surat ancaman dari Sanherib — kali ini tertulis, mengulang tuduhan yang sama, mendaftar bangsa demi bangsa yang sudah dihancurkan Asyur seolah membuktikan tak ada allah yang sanggup menahan mereka (37:10-13). 10”Beginilah harus kamu katakan kepada Hizkia, raja Yehuda: Janganlah Allahmu yang kaupercayai itu memperdayakan engkau dengan menjanjikan: Yerusalem tidak akan diserahkan ke tangan raja Asyur. 11Sesungguhnya, engkau ini telah mendengar tentang yang dilakukan raja-raja Asyur kepada segala negeri, yakni bahwa mereka telah menumpasnya; masakan engkau ini akan dilepaskan? 12Sudahkah para allah dari bangsa-bangsa yang telah dimusnahkan oleh nenek moyangku, dapat melepaskan mereka, yakni Gozan, Haran, Rezef dan bani Eden yang di Telasar? 13Di manakah raja negeri Hamat dan Arpad raja kota Sefarwaim, raja negeri Hena dan Iwa?” • tindakan Hizkia Hizkia berdoa di hadapan Tuhan, katanya: 16 ”Ya Tuhan semesta alam, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi. 17Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, dan dengarlah; bukalah mata-Mu, ya Tuhan, dan lihatlah; dengarlah segala perkataan Sanherib yang telah dikirimnya untuk mencela Allah yang hidup. • . Ia membentangkannya, terbuka penuh, di hadapan Pribadi yang paling berhak melihatnya. Ada "surat Sanherib" versi kita masing-masing — pesan, hasil lab, notifikasi, kata-kata seseorang — yang isinya seolah dirancang untuk meyakinkan kita bahwa kali ini benar-benar tidak ada jalan keluar. Hizkia tidak memendam perasaan, kesusahan , tetapi datang kepada Tuhan Dan perhatikan isi doanya (37:15-20). Hizkia tidak langsung meminta "selamatkan Yerusalem." Ia mulai dengan mengingat siapa Tuhan itu — "TUHAN semesta alam, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim, Engkaulah Allah, Engkau sendiri, atas segala kerajaan di bumi; Engkau telah menjadikan langit dan bumi" — sebelum akhirnya berkata, Maka sekarang, ya Tuhan, Allah kami, selamatkanlah kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah Tuhan • .”Permintaannya bergeser dari "selamatkan aku dari masalah ini" menjadi "nyatakan bahwa Engkau sungguh Allah, di tengah masalah ini." Itu bukan doa yang menyangkal rasa takutnya — dia sudah mengakui kesesakan itu di ayat sebelumnya. Tapi doanya berakhir bukan pada dirinya sendiri, melainkan pada nama Tuhan. Jawaban Tuhan datang lewat Yesaya — pertama sebuah nyanyian ejekan balik kepada Sanherib sendiri (37:22-29), inilah firman yang telah diucapkan Tuhan mengenai dia: Anak dara, yaitu puteri Sion,telah menghina engkau, telah mengolok-olokkan engkau; dan puteri Yerusalemtelah geleng-geleng kepala di belakangmu. 23Siapakah yang engkau cela dan engkau hujat?terhadap siapakah engkau menyaringkan suaramu,dan memandang dengan sombong-sombong?Terhadap Yang Mahakudus, Allah Israel! 24Dengan perantaraan hamba-hambamu engkau telah mencela Tuhan,dan engkau telah berkata: Dengan banyaknya keretaku aku naik ke tempat-tempat tinggi di pegunungan,ke tempat yang paling jauh di gunung Libanon; aku telah menebang pohon-pohon arasnya yang tinggi besar,pohon-pohon sanobarnya yang terpilih;aku telah masuk ke tempat tinggi yang paling ujung,ke hutan pohon-pohonannya yang lebat. 25Aku ini telah menggali airdan telah minum air;aku telah mengeringkan dengan telapak kakikusegala sungai di Mesir! 26Bukankah telah kaudengar,bahwa Aku telah menentukannya dari jauh haridan telah merancangnya dari zaman purbakala?Sekarang Aku mewujudkannya,bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubumenjadi timbunan batu, 27sedang penduduknya yang tak berdayamenjadi terkejut dan malu;mereka menjadi seperti tumbuh-tumbuhan di padangdan seperti rumput hijau,seperti rumput di atas sotoh,atau gandum yang layu sebelum ia masak.
28Aku tahu, jika engkau bangun atau duduk,jika keluar atau masuk,atau jika engkau mengamuk terhadap Aku. 29Oleh karena engkau telah mengamuk terhadap Aku,dan kata-kata keangkuhanmu telah naik sampai ke telinga-Ku,maka Aku akan menaruh kelikir-Ku pada hidungmudan kekang-Ku pada bibirmu,dan Aku akan memulangkan engkau melalui jalan,dari mana engkau datang.
lalu sebuah tanda yang indah bagi umat-Nya: 'Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yehuda, yaitu orang-orang yang masih tertinggal, akan berakar pula ke bawah dan menghasilkan buah ke atas. ' Yesaya 37:31 Tuhan sendiri yang bertindak (37:36). 'Keluarlah Malaikat Tuhan , lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka! ' • Sanherib pulang dengan tangan hampa, dan pada akhirnya dibunuh oleh anak-anaknya sendiri, Penerapan • pertanyaan Rabsake tetap akan datang dalam berbagai bentuk sepanjang hidup kita — dan bukan salah kalau kita perlu waktu untuk jujur menjawabnya di hadapan Tuhan, bukan langsung membalasnya di depan orang. Kedua, membentangkan pergumulan kita di hadapan-Nya bukan tanda kita sedang tidak percaya. Itu justru bentuk paling jujur dari iman