DAILY BREAD

PILIHANKU

Senin, 14 September 2025 // Pukul 21.00 WIB

BACAAN ALKITAB HARI INI

Yes. 33:1 - 35:10 ; Gal. 1:1-24 ; Mzm. 107:10-22


RENUNGAN

PILIHAN-ku

GALATIA 1:10 Galatia 1:10 (TB) Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?

Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

PENDAHULUAN

Setiap hari kita membuat pilihan. Kita memilih apa yang kita katakan. Kita memilih dengan siapa kita bergaul. Kita memilih bagaimana kita hidup. Kita memilih apa yang kita kejar. Tetapi sering kali masalah kita bukan karena kita tidak tahu mana yang benar. Masalahnya adalah ketika kita takut memilih yang benar karena pilihan itu tidak disukai orang lain. Kita takut dianggap aneh. ditolak. kehilangan teman. dikritik. tidak diterima.

Karena itu Galatia 1:10 membawa kita kepada satu pertanyaan: “Siapa yang menjadi dasar dari pilihan-pilihan hidup kita?” Paulus memberikan jawabannya dengan sangat jelas: “Aku memilih untuk berkenan kepada Allah.”

LATAR BELAKANG

Surat Galatia ditulis Paulus kepada jemaat yang sedang menghadapi masalah serius. Ada orang-orang yang mencoba memengaruhi jemaat dengan pemberitaan yang berbeda dari Injil Kristus. Paulus kemudian menegaskan bahwa dirinya tidak hidup untuk mencari penerimaan manusia. Ia tidak menjadikan popularitas, penerimaan, atau penilaian manusia sebagai standar hidupnya. Paulus sudah membuat pilihan: Lebih baik berkenan kepada Allah daripada menyenangkan manusia.

1. PILIH KESUKAAN ALLAH, BUKAN KESUKAAN MANUSIA Galatia 1:10 : “Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah?” Paulus bukan berarti tidak peduli kepada manusia. Ia mengasihi manusia. Ia melayani manusia. Ia memberitakan Injil kepada manusia. Tetapi Paulus tidak hidup untuk mendapatkan persetujuan manusia. Ada perbedaan antara: mengasihi manusia dan hidup untuk menyenangkan manusia. Kalau kita hidup hanya untuk menyenangkan manusia, hidup kita akan dikendalikan oleh opini orang lain.

Hari ini dipuji
→ kita senang. Besok dikritik
→ kita hancur. Hari ini diterima
→ kita percaya diri. Besok ditolak
→ kita berubah.

Akhirnya kita bukan lagi bertanya: “Apa yang Tuhan mau?” Tetapi: “Apa kata orang?” Contoh: Saul Saul tahu apa yang Tuhan perintahkan.

Tetapi tidak melakukannya. ketika Samuel menegurnya, Saul berkata: “Aku takut kepada rakyat, sebab itu aku mendengarkan permintaan mereka.” — 1 Samuel 15:24 Saul tahu kehendak Tuhan, tetapi ia memilih menyenangkan rakyat. Ia lebih takut kehilangan penerimaan manusia daripada kehilangan perkenanan Tuhan. Ayat pendukung Amsal 29:25 (BIMK)  Takut akan pendapat orang, mengakibatkan kesusahan.

Percayalah kepada TUHAN, maka engkau akan aman. Pelajaran Jangan sampai kita kehilangan ketaatan kepada Tuhan hanya karena takut kehilangan penerimaan manusia. Lebih baik kurang disukai manusia karena melakukan kehendak Tuhan, daripada disukai manusia tetapi jauh dari Tuhan. Aplikasi Apapun kondisi hidup kita, tetaplah memegang dan melakukan kebenaran Tuhan2.

PILIH KEBENARAN, BUKAN KENYAMANAN

Pilihan yang benar tidak selalu pilihan yang nyaman. Kadang: Benar tetapi tidak populer. Benar tetapi sulit. Benar tetapi membuat kita harus berkata “tidak”. Benar tetapi membuat kita kehilangan sesuatu. Tetapi sebagai orang percaya, pertanyaannya bukan: “Mana yang paling nyaman?” Melainkan: “Mana yang benar di hadapan Tuhan?” Contoh: Daniel Daniel hidup di lingkungan yang tidak mengenal Allah Israel. Ia sebenarnya bisa mengikuti kebiasaan kerajaan supaya hidupnya lebih aman dan nyaman.

Tetapi Daniel 1:8 berkata: “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya…” Daniel memilih ketaatan daripada kenyamanan. Begitu juga kita. Ketika teman mengajak melakukan sesuatu yang salah: Ikut supaya diterima atau menolak karena benar? Ketika ada kesempatan untuk berbohong: Berbohong supaya aman atau berkata jujur? kita bertanggung jawab atas pilihan kita. Aplikasi Sebelum mengambil keputusan, jangan hanya bertanya: “Apa yang saya mau?”

Tetapi tanyakan: “Apa yang Tuhan mau?” Karena: Keputusan yang benar mungkin tidak selalu membuat hidup kita mudah, tetapi keputusan yang benar membuat kita tetap berada di jalan Tuhan.3.PILIH MENJADI HAMBA KRISTUS Galatia 1:10 : “Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Paulus menunjukkan bahwa pilihan kita menunjukkan siapa yang menjadi Tuhan dalam hidup kita. Kalau manusia menjadi tuan kita, kita hidup berdasarkan perkataan manusia. Kalau ego menjadi tuan kita, kita hidup berdasarkan keinginan diri sendiri.

Tetapi kalau Kristus adalah Tuhan, maka pilihan kita harus tunduk kepada-Nya. Menjadi hamba Kristus berarti berkata: “Tuhan, bukan kehendakku yang terutama. Kehendak-Mulah yang utama.” Contoh: Yesus Di taman Getsemani, Yesus berkata: “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” — Lukas 22:42 Yesus menghadapi pilihan yang sangat berat. Tetapi Ia memilih kehendak Bapa.

Dan melalui ketaatan-Nya, jalan keselamatan terbuka bagi manusia. Pelajaran Sering kali kita berpikir bahwa keputusan besar menentukan masa depan. Tetapi sebenarnya keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari sedang membentuk siapa diri kita. Memilih: jujur. mengampuni. menjaga kekudusan. membaca Firman sdan berdoa. berkata “tidak” kepada dosa. tetap taat meskipun tidak ada yang melihat.

Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan adalah kesempatan untuk berkata: “Saya memilih Kristus.”Kesimpulan Galatia 1:10 mengajarkan bahwa hidup kita akan selalu berhadapan dengan pilihan. Ketika harus memilih: Kesukaan manusia atau kesukaan Allah?
➡ Pilih Allah. Kebenaran atau kenyamanan?
➡ Pilih kebenaran. Kehendak diri sendiri atau kehendak Kristus?
➡ Pilih Kristus. Karena pada akhirnya, pertanyaannya bukan: “Apakah semua orang menyukaiku?”

TeTapi: “Apakah hidupku berkenan kepada Tuhan?” Jangan takut membuat pilihan yang benar hanya karena pilihan itu tidak populer.